Oleh Juan Anthonio Salas

YinniHao.id- Mama ada di mana?
Mama sekarang lagi ada di mana ?
Mama sekarang lagi ngapain?
Mama sekarang udah makan belum?
Mama kok belum peluk aku sih.

Tepat sekitar 8 tahun yang lalu, aku menyaksikan sendiri bahwa mama, pergi meninggalkan aku sendiri. Mama pergi tanpa memberitahuku terlebih dahulu, kadang terbersit mama kok tega? Tapi hati ini terus membatin membayangkan penyakit yang dideritamu jauh lebih besar daripada yang aku bayangkan, bagaimana rasa itu terus tertahankan sehingga pada akhirnya Tuhan memanggilmu meninggalkanku.

Aku ingat ketika di pelataran rumah sakit, mengantarmu untuk check up harian, sampai mama masuk ICU, lalu HCU, lagi kembali ke ruang perawatan biasa, setelah itu tiada.

Sulit membayangkan memang hati seorang anak kecil yang masih polos yang masih butuh kasih sayang mama terhadap aku. Hati ini menjadi rapuh tak tertahankan, rapuh? Iya, sangat rapuh. Bahkan, bagaimana semua orang yang menemanimu menangis bersedih, mengantarkan rohmu untuk pergi selamanya dari bumi ini.

Yang tersisa hanyalah ragamu, yang menampilkan senyuman kelegaanmu menandakan mama sudah bebas sepenuhnya, tidak lagi mengalami sakit, tidak lagi mengalami penyiksaan, tidak
ada lagi rasa kepedihan, yang ada hanyalah senyuman kebahagiaanmu.

Sedih memang bahkan tersingkap rasa iri terhadap hati ini, melihat banyak orang masih memiliki ibu, atau orang tua yang lengkap. Sulit memang menyembunyikan bahwa aku kuat, aku dewasa, aku tahan akan segala pencobaan ini, sulit tak tertahankan.

Rindu? Sangat, sangat rindu, bila aku bandingkan Gunung Everest pun bahkan kalah akan kerinduanku terhadap sosokmu mama, sosok yang mampu bertanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, sosok yang kukagumi.

Aku masih ingat betul dirimu sering berkata jadilah sukses, jadilah seperti itu, tapi yang ku mau sekarang adalah menggenggam mu mama, aku mau jadi sukses, aku yakin di mana ketika aku sukses nanti, dibalik itu adalah doamu yang mengantarkan anakmu ini.

Aku masih ingat betul ketika selama 3 bulan terakhir sebelum mama meninggalkan aku, aku merasa puas menjadi seorang anak di mana aku bersyukur selama 3 bulan terakhir itu aku setiap hari menemanimu, menemanimu di kala pagi sampai malam, menemani hari harimu, menyuapimu, membantumu ke kamar mandi, aku sangat bersyukur bahwa tugasku sebagai anak telah terbayarkan.

Yang tersisa adalah kenangan kerinduan akan sosokmu, sosokmu yang menjadi cinta pertamaku, aku rindumu mama, aku rindu sosokmu, sampai detik ini pun, aku masih berharap, mama tidak akan pergi, aku masih berharap, mama tidak akan pernah meninggalkanku, namun yang terbayangkan adalah Tuhan memanggilmu secepat itu, meninggalkanku, sehingga aku mengalami kesendirian.

Aku yakin mama masih di sana, di tempat yang sama, yaitu surga, sembari melihatku, sembari berdoa kepadaku, aku yakin juga mama pasti terus memberiku sebuah harapan, harapan yang pastinya ku genggam seumur hidupku, harapan mama kepada anaknya. Doa yang terus terpanjatkan kepadamu.

Aku masih ingin terus membayangkanmu , membayangkan sosokmu, rindu aku tak tertahankan sampai aku berpikir, apakah aku mengikuti jejakmu mama, aku siap meninggalkan dunia ini, namun setelah berpikir sejenak, aku menghela nafas, dan berkata kepada diriku sendiri, bodoh kamu apabila kamu mau seperti itu, ingatlah akan harapan dan doa mamamu terhadap mu, ingatlah bahwa dia terus berdoa terhadapmu sampai kamu kelak sukses sehingga mamamu bisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *