Oleh: Saoirse

19 September 1945

Dor! Dor! Tak peduli bagian tubuh mana lagi yang akan tertembak! Aku akan terus berjuang. Berjuang hingga titik darah penghabisan. Aku tak mau semua perjuanganku sia – sia dan hanya sampai di sini. Sedikit lagi. Krek. Satu sobekan yang mampu mengembalikan harga diri arek – arek Suroboyo. Kulihat kain berwarna biru melayang turun dari tempatku berdiri hingga menutupi wajah salah satu tentara ‘tirani’ yang membabi buta menembak rakyat Surabaya yang mencoba melawan. Saat itu pula, mata yang seharusnya memiliki warna seteduh lautan biru berubah menjadi merah menyala. Penuh kebencian. Tanpa peringatan, senapan yang dipegangnya terarah padaku dan pelatuk tertarik. Dor! Kali ini aku peduli akan bagian tubuhku yang tertembak. Meskipun sangat sakit tetapi, tak masalah. Misiku sudah selesai. Aku bangga mati hari ini. Mati untuk sebuah harga diri ribuan orang. 

***

            17 Agustus 1945

            “ Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945. Atas Nama Bangsa Indonesia. 
Soekarno-Hatta. “ Pengumandangan proklamasi melalui radio oleh Soekarno disambut tangis bahagia oleh arek – arek Suroboyo. Mereka segera melepas bendera Nippon maupun Belanda dan mengganti dengan bendera darah dan tulang, merah-putih. Banyak yang mengira ini adalah akhir dari semua perjuangan. Tak ada yang menyadari bahwa ini hanyalah awal dari perjuangan yang lebih berat. Tapi aku menyadarinya. 

Namaku Kusno Wibowo. Kusno yang berarti gemar akan ilmu pengetahuan, sedangkan Wibowo yang berarti karisma/wibawa. Mungkin dulu orang tuaku berharap aku bisa tekun menimba ilmu dan menjadi orang yang berkarisma. Ya mungkin. Aku tak pernah mengenal orang tuaku. Mereka telah diambil dariku saat aku belum mengerti mana senapan dan mana bambu runcing. Pamanku, salah satu pemimpin pasukan gerilya di Surabaya, merawatku hingga aku bergabung dengan pasukannya. 

            Aku bukan orang yang sedang berdiri di depan seluruh pasukan sambil berteriak dengan lantang seperti pamanku. Aku sama seperti ribuan pemuda Surabaya lain yang yang menunggu perintah dan siap mati. Setidaknya untuk hari ini aku bisa beristirahat sejenak. Melepas penat batin dan fisik. Aku selalu yakin, aku punya misi besar yang harus dilakukan untuk banyak orang. Dan aku akan siap, walaupun nyawa sebagai gantinya.

***

            31 Agustus 1945

            Akhirnya kami dapat mengibarkan bendera kebanggaan kami dengan terang – terangan dan tanpa rasa takut akan tentara Nippon. Maklumat yang dikeluarkan memukul telak tentara Nippon yang masih memaksa pemasangan bendera putih dengan lingkaran merah di tengah. Kami sudah menjadi negara yang bebas dan merdeka. Kami adalah negara yang berdaulat.

            “ Paman, hari ini aku akan membantu paman untuk memasang bendera di depan bangunan Belanda dan Nippon. “ Aku segera berdiri dan berlari ketika melihat paman pergi bersama kepala pasukan lain. 

            “ Boleh. Panggil kawan – kawanmu. Hari ini kita akan bekerja lebih keras dari sebelumnya. Kita tak ingin para tentara Nippon ataupun Belanda datang kembali bukan? “ Suara paman terdengar khawatir sekaligus waspada. Aku juga mengkhawatirkan kondisi paman yang akhir- akhir ini terlihat kurang sehat. 

            Apakah tentara Nippon ataupun Belanda berani datang kembali ke sini untuk menjajah negara yang sudah merdeka dan tak kenal rasa takut dan bahkan akrab dengan malaikat pencabut nyawa? Tapi, tak ada salahnya selalu siap sedia.

***

            19 September 1945 pukul 21.00 WIB

            Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr W.V.Ch Ploegman telah bersiap-siap untuk mengibarkan bendera Belanda.

“ Hoe de voorbereidingen vlag?1 “ tanya Mr W.V.Ch Ploegman kepada salah satu kepala pasukan.

            “Rapport pack, zullen we begonnen hebben op het verhogen van de hoogste piek in dit hotel Yamoto.2 Sahut salah satu kepala pasukan.

            “ Laat voeren mogelijk.3” Respon Mr W.V.Ch Ploegman begitu puas dengan dengan kerja kepala pasukannya. Ini adalah peristiwa yang sudah ditunggu – tunggu oleh kepala pasukan daerah Surabaya itu.

            “ Klaar om in te pakken !!4 “

***

20 September 1945

            Dor! Aku tersentak akan suara tembakan di pagi buta. Mengapa bisa ada tembakan? Kita sudah merdeka. Perang sudah berakhir. Tanpa berpikir panjang aku segera beranjak keluar untuk memastikan apa yang terjadi.  

            “ Kusno, lihat tentara Belanda tak tahu diri berani menginjakkan kakinya di Surabaya dan bahkan menancapkan benderanya di Hotel Yamato. “ Teriak salah seorang kawan yang berlari mengikuti kerumunan massa. 

            Pagi itu, Jalan Toenjoengan menjadi ramai karena rakyat Surabaya khusunya arek –arek Suroboyo datang memadati halaman hotel dan menuntut penurunan bendera merah-putih-biru. Aku melihat seorang tentara Belanda berteriak sambil mengacungkan senapannya pada massa yang berdesakan untuk masuk ke lobi hotel. Aku bingung, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Jika begini terus, pertumpahan darah akan terjadi. 

1. Bagaimana persiapan pengibaran bendera?
2. Lapor pak, kita sudah akan mulai pengibaran di puncak tertinggi di Hotel Yamato.
3. Baiklah, laksanakan sebaik mungkin.
4. Siap pak !!

Sebelum terjadi adu mulut lebih lama lagi, pasukan dibawah pimpinan Sudirman datang dan bersepakat untuk mengadakan perjanjian dengan Ploegman. Sudirman, Hariyono, dan Sidik diijinkan masuk oleh tentara Belanda. Sedangkan pamanku berada di barisan paling depan di antara kerumunan massa untuk meredam amukan mereka. Aku segera berlari mendekati paman.

            “ Paman, apa yang terjadi? “ teriakku untuk mengalahkan suara dan desakan massa yang makin menjadi – jadi. Saat itu pun kusadari tangan kanan paman berdarah. “ Kenapa dengan tangan paman? “

            “ Kusno, kamu harus memimpin kawan – kawan pemudamu untuk menjauhi wilayah ini sekarang. Perjanjian damai tidak dapat dibuat antara tentara Belanda dan pasukan kita untuk saat ini. Pertumpahan darah akan terjadi. Bergabunglah dengan rakyat Surabaya yang lain. Kita harus mengembalikan harga diri dan kemerdekaan kita! “ Paman terlihat begitu serius dan yakin apa yang dia katakan. 

“ Tapi paman, aku mau berjuang juga. Aku adalah arek – arek Suroboyo! “ jawabku tegas.

“ Tak ada tapi. Cepatlah. Paman tau kamu mau berjuang juga. Tapi kamu harus menyusun strategi. Kalau tidak ini semua akan sia – sia. “ Aku memilih untuk percaya dengan apa yang paman katakan. Namun, aku tak menyadari bahwa itu adalah saat terakhir aku bisa berbicara dengan paman. Segera, aku memanggil kawan – kawan pemuda seperjuanganku dan mengatakan apa yang paman katakan. 

            Kami memilih tempat yang aman untuk bersembunyi. Tidak! Kami bersembunyi bukan karena kami takut. Kami menyusun strategi untuk menurunkan bendera Belanda tersebut. Hingga menjelang siang massa belum mereda. Bahkan makin banyak rakyat Surabaya dari berbagai pelosok bergabung dan memaksa mendobrak masuk ke dalam hotel. Tak peduli dengan teriakkan dan beberapa kali letusan senapan yang telah dilepaskan tentara Belanda, rakyat tetap memaksakan diri untuk masuk.

            Tak lama berselang, aku mendengar Harianto dan Sudirman keluar dari hotel dan berteriak, ”Mereka berkhianat. Sidik telah ditembak.” Rakyat Surabaya geram melihat salah satu pejuangnya ditembak saat mengadakan perundingan. Mereka segera mendorong tentara Belanda yang berjaga di depan dan mendobrak masuk. Tentara Belanda yang panik pun menembak dengan membabi buta semua orang yang mendorongnya. 

            Dari kejauhan aku melihat tubuh paman jatuh tersungkur dan diinjak-injak oleh para tentara Belanda. Aku merasakan amarah yang meluap – luap dalam diriku. “ Akan kubuat pengorbananmu tak sia- sia, paman. ” sumpahku dalam hati. Semakin banyak rakyat yang tumbang di halaman hotel. Hari itu, kira – kira sudah 500 tubuh tergeletak di sekitar halaman hotel . Aku mengira rakyat lain akan takut melihat peristiwa itu, namun, tanpa disangka dari berbagai arah muncul rakyat Surabaya beserta pemuda – pemuda yang membawa senjata berlari menuju Hotel Yamato. Dengan satu teriakan, “ Merdeka! ” kami semua menggabungkan satu kekuatan untuk satu tujuan. Berjuang bagi hak dan harga diri kami. Merdeka!

***

Inspirasi Sejarah:

“Peristiwa perobekan bendera Belanda oleh Arek-arek Suroboyo di Hotel Yamato jalan Tunjungan pada tanggal 19 September 1945. Peristiwa ini yang memuncak pada 10 November 1945 dan diperingati sebagai hari Pahlawan.”


Perkenalkan semua! Nama saya adalah Karina Octavia dan saat ini saya sedang menempuh Pendidikan master Teknik Sipil di National Cheng Kung University Taiwan. Membaca dan menulis menjadi short escape ketika penat dengan kesibukan kuliah dan penelitian. Cerita cerita dalam buku yang saya membaca mampu membawa saya ke tempat-tempat yang tidak mungkin saya kunjungi karna semua hanya ada dalam imajinasi. Setiap goresan tulisan menjadi semacam journey untuk saya dalam menjelajahi dunia yang lebih luas dan tanpa batas. Karena dalam setiap cerita saya yakin tidak ada yang namanya batas. Dan menulis juga menjadi salah satu sarana untuk menampung semua imajinasi ‘liar’ dan tak terbendung di kepala saya. Saya juga sesekali mengupload tulisan saya di blog pribadi dan mengirim ke beberapa penerbit di Indonesia dengan nama pena Saoirse.

“I am a lifetime wanderer because I never stop searching for a new adventure!-S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *